Bagaikan petir tak berbunyi, aku tak terkejut tapi terhentak. Ternyata kamis 21 Januari 2016 kami akan berdiskusi serius. Malam ini, kami datang dari setiap penjuru bumi, mengumpulkan segala ilmu dan kekuatan batin untuk menghilangkan typo dan spasi tak jelas. Dengan keringat yang bercucuran dan air mata yang belum mengalir, akhirnya kami menyelesaikan dalam bentuk .docx yang harganya 4 tahun perjuangan di tempat ini.
Malam ini menjadi renungan, atas apa yang telah kami lewati. Lika liku laki laki yang penuh dengan luka luka yang tak laku laku (internet, kemarin), begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan kami. Kadang ingin kami berlari dari kenyataan, tapi kenyataan tak sudi mengejar.
Mungkin nanti setelah semua selesai, kami akan tetap mengingat jasa-jasa seorang yang hanya kami kenal di tempat ini. Bukan seorang yang memberikan kami roti di saat kami lapar, atau memberikan puisi di saat kami bersedih. Lebih dari sebuah pelajaran, kami mendapatkan pengalaman yang tak di dapatkan orang lain.

ya, hari esok adalah hari dimana kami diuji.
Ibarat besi, bisa dikatakan sekarang kami sudah menjadi pedang.
kami dibakar, ditokok, dan dibakar lagi hingga menjadi pedang yang tajam.
Mungkin doa akan menjadi hadiah terbaik dari kami yang telah menjadi cukup kuat untuk menjalani hari.